Sejak kecil, aku terbiasa sarapan dengan Nasi Goreng putih dengan Telor Dadar sebagai temannya. Ia khas sekali. Ada potongan bawang merah dan cabe hijau serta dibumbui bawang putih. Terkadang, ada teman lain di dalamnya: terasi. Orang-orang menyebut makanan itu Nasi Goreng Kampung. Entah apa alasannya dinamai demikian. Mungkin penikmatnya banyak orang kampung. Khasnya kekampungan itu tladalah tanpa warna. Ia putih belum ternoda. Orang kampung selalu dianggap lugu karena belum merasakan surga dunia yang berjejer di kota-kota. Pada hal, orang kampung itu sepengetahuanku lebih abu-abu ketimbang orang kota. Susah menebak kelakuan dan perangai seseorang dari wajah keluguan. Terlepas dari semua pendapat tentang misteriusnya penyebutan untuk makanan itu, kenikmatan Nasi Goreng Kampung itu melegenda. Ya, sesuatu atau seseorang menjadi legenda karena kenangan. Kenangan!
Semalam tanpa sengaja aku dan beberapa kreator konten blockchain singgah di Jobs Kupi Kota Matang. Di Kafe milenial itu dijual Nasi Goreng Kampung. Rasanya yang alami mengingatkanku pada banyak kenangan masa kecil yang belum berwarna itu.